Lenovo K900 = Game Changer Dalam Hobi Menggambar Saya :)

TIDUR = Manusia Kayu Lagi Tidur

Hadirnya smartphone Lenovo seri K900 cukup menggoda untuk memilikinya dan disematkan di saku celana jeans saya.

Pertama, dari besarnya layar yang disajikan, 5.5 inch, menjadikan pengguna lebih leluasa menavigasi menu - menu yang ada di Android. Apalagi jari saya yang berukuran jumbo, cucok lah!

Kedua, ngefans dengan desain punggungnya. Sering kali saya melihat smartphone dengan ukuran 5 inch ke atas hanya dilapisi plastik, terkesan kurang solid. Khusus untuk punggung Lenovo K900 disajikan dengan bahan stainless steel dan sengaja ditampakan baut - baut di setiap ujungnya, menjadikan kesan kokoh tapi "nggaya" terwujud.

Seperti kalimat sang bintang iklannya, Kobe Bryant, Lenovo K900 = Game Changer!
Setidaknya smartphone ini merubah pola permainan saya hehe..
Setelah memiliki Lenovo K900, kegemaran corat mencoret saya di saat senggang jadi terakomodir.
Layar jumbo ini menggoda saya untuk melakukan doodling instant disaat tidak ada kertas di sekitar.

Saya lagi demen membuat kreasi dengan konsep meneruskan kata - kata menjadi sebuah gambar.
Kebiasaan ini sebetulnya sudah saya lakukan sejak di bangku SD. Menginstruksikan teman sebangku saya untuk menuliskan sesuatu, selanjutnya biar otak saya diperas melanjutkan text menjelma ke dalam wujud karakter.

Dan ini dia hasilnya, menggunakan Lenovo K900 + SketchMobile Apps + Tangan!
RABU = Maling Berlian!
KAMIS = Bebek Kaget Lihat Ular di Rel Kereta Api!
JUMAT = Moster Ndengus Bunga Tulip!
SABTU = Kucing Makan Donat Di Deket Sampah!
MINGGU = Ada Monster Mata Satu!!!
SENIN = Tarzan & Monyet Ngiler Burger!
Saya juga mencoba bereksperimen dengan Lenovo K900 + SketchBook Apps + CottonBud sebagai stylus ;p

Selamat berkreasi!!!

Kikuk dengan Crayon


Mungkin kalau tidak gara - gara diajak menggambar dengan crayon oleh anak saya "Si Acan" yang menginjak usia 3,2 tahun, gambar di atas tidak terwujud.

Sudah lamaaaa sekali rasanya tidak merasakan nikmatnya goresan dan aroma crayon akibat terbuai dengan software canggih di laptop saya.

Memang butuh pemantik untuk memaksa saya melakukan hal lama tersebut.
Si pemantik malah mendemonstrasikan bahwa jangan takut untuk berkarya disaat saya sedang kagok dan penuh kekikukan dalam menggambar lewat crayon.


Si Acan malah bereksperimen mencampur adukan cat air lewat kuas dan tangan dihiasi dengan goresan crayon tak terkendali. 

Warna saling tabrak dan perasaan tidak takut keliru menjadi rahasia keseniannya.

Hasilnya… sebuah penampakan beragam "fireworks" yang bersautan di malam hari. Setidaknya itulah yang diceritakan sang seniman cilik kepada saya.


Logo yang Bikin Kucek - Kucek Mata!


Sudah lama rasanya tidak menyimak tayangan di TVRI. 
Ah iseng - iseng saya mencoba menengoknya dari puluhan opsi channel yang ada di kabel tv langganan saya.

Tontonan tersaji dalam bentuk dialog standard antara pejabat dan host dihiasi para mahasiswa multifungsi, sebagai penonton dan hiasan background agar tampak ramai.


Namun… ada sesuatu yang bikin mata saya harus dikucek - kucek, memastikan bahwa penglihatan ini jelas dan jernih. 

Sesuatu itu adalah tampilan grafis aneh bin ajaib yang ada di pojok kanan atas.
Sebuah simbol hasil transformasi dari logo TVRI yang susah diterka.


Apakah ini kuda laut sedang menggendong burung hantu ?
Jangan - jangan besi karatan dan bersisik yang siap digadai ?
Atau… Jenglot yang sedang melayang? Amit amit!

Jujur, sebagai orang yang pernah bekerja di stasiun TV (Trans TV ehem…) dan pernah juga melakukan tugas yang sama membuat animasi logo di pojok kanan atas…. bagi saya, logo tersebut adalah logo ter-aneh yang pernah on-air dan ditonton jutaan masyarakat.

Saya kira sang kreator belum berhasil mendesain konsep dalam bentuk visual yang menarik.
Mungkin dia sangat berambisi memberikan hal - hal detail dalam logo namun tidak memikirkan bahwa objek tersebut harus bisa fleksibel untuk dibesar kecilkan sesuai proporsi.

Hasil dari logo ini benar - benar bukan menjalin persatuan dan kesatuan sesuai motto TVRI, tapi malah menjalin pertanyaan dan perdebatan.

Seandainya ada Brasso digital, akan saya sikat sekencang - kencangnya…minimal biar kesan karatannya hilang dan tampak kinclong.

- - - - - - - - - -

Updated!

Setelah beberapa hari artikel ini muncul, akhirnya saya mendapatkan penampakan asli dari logo tersebut dari teman di Facebook.

Seperti ini wujudnya...



Saya menghargai ambisi desainer untuk memasukan seluruh elemen tentang Indonesia.
Tetapi... Ah..Sudahlah :)

Tabel Jadwal Menangis Anakku

Sebagai mahasiswa yang sedang mengambil Jurusan Ilmu Bapak Beranak Satu, saya dituntut untuk mampu menjawab beragam tantangan rumah tangga.

Nah, kali ini problem yang musti diatasi adalah mengurangi frekuensi mudah menangisnya anak saya, Alakhsan Arditya (Acan), yang berumur 3 tahun 3 bulan.


Bangun tidur, nangis. 
Disuruh makan, nangis.
Disuruh mandi, nangis.
Kena shampoo di kepala, nangis
Tidak menuruti permintaannya, nangis.
Disuruh tidur, nangis.
(…Tarik nafas dalam - dalam… hembuskan….)

Dari mengatasinya dengan sabar hingga tidak sabar sudah kita lakoni.
Tapi sepertinya menangis menjadi cara ampuh si Acan sebagai bentuk protesnya. 

Sepertinya pak dosen sedang memberiku tugas menantang, dan saya sebagai mahasiswa harus mencoba menjawabnya.

Muncul ide untuk membuat semacam kalender jadwal tangisan si Acan.
Berbahan baku kertas A4, spidol hitam dan selotip, saya rancang grafis berbentuk kotak yang memiliki 4 lingkaran.


Cara mainnya adalah setiap kali Acan menangis, kami akan mewarnai lingkaran dengan spidol hitam. Agar lebih menarik, ada simbol tanda bahaya berupa gambar tengkorak di lingkaran ke 3 dan 4. Artinya ketika jumlah tangisan sudah melewati batas bahaya, maka bakal terjadi sesuatu yang menakutkan.

Saya teringat bahwa Acan paling enggan kalau mendengar "Nenek Gondrong". Sosok imajinasi menakutkan yang dikarang oleh "Mbak"nya. Keriput, berambut panjang dan putih, doyan dengan anak kecil yang tidak mau "nurut". Kira - kira demikian deskripsi yang ada dibayangan Acan tentang si nenek.
Rasanya setiap mendengar nama itu seperti mengucapkan Voldemort "You Know Who" musuh sentral Harry Potter, bikin begidik ketika disebut.

Awal mula, frekuensi tangisan mencapai posisi bahaya, berada di lingkaran ke 3, melewati simbol tengkorak.
Padahal sudah saya ingatkan ketika Acan masih menempuh lingkaran ke 2. "Hati - hati lohh, ini sudah mau melewati bulatan ke 3, nanti Nenek Gondrongnya datang".
Tampaknya Acan cuek saja hingga tidak lama kemudian peristiwa tangisan berikutnya terjadi. 

Sebenarnya saya belum punya strategi apa pun ketika jumlah tangisan Acan sudah melewati lingkaran ke 3.
Kebetulan peristiwa itu terjadi di malam hari, menangis karena tidak mau tidur. Secara spontan dengan harap - harap takut tidak berhasil, saya berpura - pura mendengar langkah Nenek Gondrong sedang mendekat ke kamar kita.

Senggukan tangisan mulai mereda, Acan berubah menjadi cemas! Aha! Saya pun pura - pura ngintip ke depan pintu seolah - olah sudah melihat si Nenek Gondrong telah mendekat. Saya sambil berekspresi panik membisikan ke Acan agar segera berhenti menangis, takut didengar oleh sang nenek.

Kitapun berpelukan sambil hening, memastikan bahwa Nenek Gondrong pergi. Beberapa menit kemudian saya pura - pura grogi sambil ngintip ke pintu. Ekspresi berlagak lega saya tunjukan ke Acan bahwa sang nenek sudah pergi tidak jadi menghampiri Acan.

Alhamdulillah, sudah 13 hari program ini berjalan. Secara statistik bisa dibilang cukup efektif mengurangi daya tangisnya. 
Acan hanya sekali melakukan pelanggaran di lingkaran ke 3. Beberapa kali cukup di lingkaran ke 2 atau 1, namun sementara lingkaran tanpa spidol hitam masih mendominasi.
Beberapa tingkah lucu bagaimana dia mencoba menahan untuk tidak meneteskan air mata, salah satunya dengan mengisap jempolnya.

Memang strategi ini masih dalam percobaan. Mungkin belum tentu berhasil beberapa bulan kemudian. 
Tetapi saya hanya mencoba memberi cermin kepada Acan, melalui statistik yang dia rancang sendiri. Mulai belajar mengukur sudah sebanyak apa tangisan dia :)

Sebetulnya saya masih ragu dengan memberi reward ketika Acan berhasil menghindar dari tangisannya setiap harinya. Takut hanya karena reward dia tidak nangis, bukan karena kesadarannya.
Sesekali, kami tetap suka memberi hadiah berkat prestasi menahan air mata, tetapi sering kali saya tekankan kepada dia bahwa lelaki sejati itu tidak mudah crying.

Hiks! Saya jadi ikutan menangis…tapi tangisan haru ;…)

Kenapa Tempe Yang Saya Makan Enak ?


Ceritanya saya sedang diwawancarai oleh sebuah portal yang khusus membahas masalah kuliner bernama Rasamasa.com

Salah satu pertanyaannya adalah tentang makanan favorit di masa kecil. Entah kenapa lidah ini langsung berucap Tempe!

Akhirnya saya paham mengapa sampai sekarang perut ini masih jatuh cinta dengan makanan berbahan kacang kedelai ini setiap pulang mudik. Isunya sih karena bahan Tempe di Kota Malang memang salah satu yang juara, mungkin faktor cuaca dan karakter tanah kali ya ?

Selain itu, kenikmatan memakan tempe, ya karena kebiasaan ibu saya dari proses pembelian, hingga penggorengan yang menurut saya menarik untuk ditelusuri :)