Showing posts with label Nglencer. Show all posts
Showing posts with label Nglencer. Show all posts

Demi Belanda, Melahap Haring!

"Kalian harus makan Haring!" Ungkap Mbak Wati Chaeron, ibu asli Jogjakarta lama tinggal di Den Haag Belanda yang menyediakan couchsurfing (menginap di tempat seadanya) bagi kami di rumahnya.

"Haring? Apaan tuh Mbak?" tanya saya sambil berharap sebuah makanan yang hangat dihiasi dengan keju meleleh.

"Sudahhh, pokoknya kalau kalian belum makan Haring, berarti belum merasakan Belanda sebenarnya!" Paksa Mbak Wati sambil menggiring kami ke sebuah kios berwarna biru.

Tampak gerombolan bule sedang asyik terbahak - bahak sambil badan menggeliat -nggeliat kayak Inul masih muda. Sepertinya mereka makan sambil geli. "Aahhh..jangan - jangan mereka makan Haring!" batin saya.
Butuh merogoh kocek sekitar Rp 30.000 an untuk satu makanan Haring
Ternyata dugaan saya benar! Terlihat fillet ikan mentah berukuran panjang sekitar 20 cm diselimuti bawang berukuran dadu di tangan beberapa orang turis di depan kami.

Wah, imajinasi saya tentang Haring berupa makanan hangat ala junk food sirna. Haring (Herring) adalah ikan kecil yang biasa di dapat di laut selatan dan laut timur dekat Denmark dimana telah menjadi sebuah tradisi sejak 600 tahun lalu memakannya dengan cara langsung dilahap mentah - mentah.

Konsepnya kurang lebih seperti Sashimi di Jepang, namun bedanya cara penyajiannya jika Sashimi tampak indah dan imut - imut pemotongannya, Haring hanya menghilangkan duri serta kepala tanpa presentasi yang menarik.
Benar - benar seperti ikan masih hidup tanpa kepala yang ditimbun bawang putih
Teknik memakan Haring juga cukup menarik. Kepala menengok keatas sambil menunggu jari kita menggiring ke mulut dengan memegang ekornya. Idealnya dalam satu kali lahap untuk menikmatinya.

Hmmmmm, rasanya sih geli - geli berlendir. Rasa bawang cukup meredakan sedikit kesan amis di mulut. Istri saya @helloarie yang favorit memakan Sashimi saja langsung ilfill, kapok untuk menelan kedua kalinya.

Saya nggak tahu komentar Pak Bondan merasakan Haring, mungkin dia akan berkata "Makkk...Nyuu...suuuuu waeee!" (Ibu, Minta Minum Susuuu Ajaa!)

Kiri : Saya dengan wajah antusias siap memakan Haring! Kanan : istri saya, @helloarie memperlihatkan wajah pasrah

Kiri : Hmmmm kok kayaknya menggelikan ya... (makin ragu), Kanan : @helloarie seperti tidak ada pilihan lain untuk menelannya.

Kiri : Haapppp!!! Ikan Paus memakan ikan Haring! Brrrrr Nekat!!, Kanan : @helloarie masih berjuang keras melawan kejijikannya.

Siap Siaga Menghadapi Pengemis Paris


Jaket tebal penuh saku berwarna biru lumayan melindungi dinginnya cuaca Paris yang saat itu sekitar 12 derajat celcius. Tas ransel dan tas pinggang melengkapi penampilan saya sebagai turis ala backpacker di kota pemilik Menara Eifel ini.

Mendadak dua wanita berkerudung mendekati saya. Disodorkanlah secarik kertas seperti daftar nama yang harus diisi, di tangan mereka juga telah siap sedia sebuah bolpen.

Tampang memelas sambil memohon mohon untuk menandatangani sesuatu di kertas membuat saya makin malas untuk meladeni mereka. Sedikit memaksa seolah tiga wanita itu ingin mengepung saya.

Melas tapi maksa, mungkin itu motto mereka kali ya? Untung muka masam saya dan sedikit melengos beranjak pergi sambil bibir berkata "NO!" membuat hati mereka sedikit demi sedikit berkata "ya sutra lah". Seolah paham bahwa tidak perlu didekati lagi, percuma.

Sebuah sambutan pahit dari Paris buat saya dan istri, @helloarie. Makin sepet rasanya ketika mereka berdua menggunakan atribut agama saya dari ucapan dan dandanan sebagai alat mendapatkan uang secara tidak cantik.

Tidak lebih dari satu jam, gangguan itu datang lagi, namun dengan orang yang berbeda. Kali ini jumlahnya lebih banyak, tiga orang wanita berkerudung.

Konsepnya kurang lebih sama, sambil menenteng kertas berisi list dan bolpen, berharap yang mereka jumpai mau menanda tanganinya. Dugaan saya semacam meminta dukungan dalam bentuk  sumbangan.

Sekonyong konyong diantara tiga wanita itu mendekati dan menepuk nepuk pundak saya dengan muka seolah teman dekat yang sudah lama tak berjumpa. "Assalamuallaikum brother, we are Moslem" ucapnya. Hadeehh apa lagi inihh! - batin saya.

Dua wanita lain sibuk kemrungsung menyodorkan kertas untuk minta tanda tangan, rasanya seperti artis dari Indonesia dikerubuti fans dari Paris, tapi kalau yang ini fans penipu.

Terus terang saya tidak bisa melihat wajah mereka karena tertutup banyak kertas. Insting saya mendadak melapor bahwa ada sesuatu yang bahaya jika dibiarkan.

Walhasil badan gemuk saya setinggi 178 cm ini langsung menggeliat keluar secara cepat dari kerumuman tiga wanita heboh itu.

Seperti auto pilot, merekapun pergi mencari mangsa yang lain. Kebetulan di belakang saya sedang ada bis wisata yang sedang menurunkan banyak turis dari Jepang. Secepat kilat geng berkerudung itu mendekatinya.

Awalnya saya menganggap bahwa ini hanyalah trik dari pengemis di Kota Paris, namun ketika melihat tas pinggang saya yang terbuka lebar, asumsi menjadi berubah. Ternyata mereka adalah maling berkedok pengemis.

Cukup panik ketika resleting itu terbuka lebar, karena uang euro dan passport tersimpan di sana. Syukur Alhamdulillah, reflek saya menyelamatkan dari peristiwa buruk. Tidak tahu apa jadinya jika saya meladeni kehebohan mereka dalam waktu yang cukup lama, mungkin saya akan mengemis di KBRI untuk pengurusan passport.

Hasil survey di internet mengamini saya, bahwa pola pengemis seperti itu sudah menjadi warning bagi turis di Paris. Telah banyak korban yang kehilangan barang - barang berharganya dan ternyata konsep penyodoran kertas adalah sebagai kamuflase agar kegiatan mencopet tidak terlalu terlihat. Satu orang sibuk menjelaskan, sisanya sibuk menggrayangi.

Tidak sengaja ketika saya duduk di dalam kereta bawah tanah, tampak secarik kertas ukuran A5 tergeletak di kursi sebelah. Dari pada bengong, saya baca saja. Oalah, ternyata pengemis sudah menjadi sindikat, bahkan sampai di print dengan rapi bagaimana cara berucap. Rasanya pemilik bacaan ini ingin saya siram dengan kecap.


Terkotak Kotak Setan Merah

Heboh motif kotak kotak selain digandrungi ketika saat kampanye Pilgub Jokowi Ahok, ternyata juga menjadi tren di komunitas klub setan merah.

Manchester United merilis seragam barunya di musim 2012 - 2013 dengan pola gingham style. Bahasa Belanda yang berasal dari bahasa melayu yaitu genggang, memiliki arti kain corak petak.

Cukup masuk akal alasan MU memutuskan memakai konsep motif kotak kotak, karena konon kepopuleran produksi kain gingham berawal dari pabrik tenun di Manchester di abad pertengahan 18. Seolah MU mencoba mengenang sejarah tersebut.

Walau motif gingham cukup memorable ketika dipakai Judy Garland di film Wizard of Oz dan grup vokal asal Jepang AKB48, namun masih banyak yang menganggap kain kotak kotak ini lebih cocok untuk taplak meja atau dekorasi korden.

Ketika saya berkunjung ke Mega Store, pusat official merchandise MU di Old Trafford Stadium, banyak corak gingham yang coba disajikan melalui ragam gaya. Mulai dari kaos, sweater, mug, payung, hingga celana dalam.

Sepertinya mereka mencoba menyebarkan virus fashion kotak kotak kepada penggemarnya.
Aahh seandainya MU merilis versi sarung, mungkin fansnya di Indonesia akan semangat untuk memakainya.

Akankah gingham style seheboh gangnam style ? Tanyakan saja pada sexy lady!





Duta Bangsa Itu Bernama Nasi Goreng

Tubuh ini telah mendarat di halte bis daerah Piccadilly Gardens Manchester untuk siap - siap sowan ke Old Trafford Stadium. Namun mendadak terhambat oleh perut yang sedang protes kelaparan.

Gerimis melow dan suhu 8 derajat celsius membuat kami segera bergegas memilih tempat restoran secara random, pokoknya makan sambil nganget* (*mencari kehangatan).

Tidak sengaja kita melihat rumah makan dengan nama Rice Faster Food Outlet. Ahhh, rasanya seperti terkena cipratan surga setelah sekian lama bosan memamah menu bule. Nasi aku padamu!

Beberapa pelayan masih sibuk beberes dan ngepel, tampaknya kita menjadi customer pertama pagi itu. Langkah cepat menuju meja kasir untuk memesan sarapan, membungkam teriakan protes dari perut yang sudah mengganggu.

Tiba - tiba lagu Indonesia Raya seakan berkumandang di kepala saya. Penyebabnya adalah tertulisnya menu Indonesian Nasi Goreng yang berada di puncak paling atas daftar menu di dinding restoran. Masuk kategori Recommended Dishes pulak!

Tampaknya salah satu makanan khas Indonesia ini sudah populer di lidah orang Manchester. Buat saya ini semacam kekuatan soft power dalam memperkenalkan citra nusantara di mata dunia. Nasi Goreng telah sukses menjadi duta kita.

Awal yang baik untuk membuat penasaran orang bule tentang bumi pertiwi. Tak kenal maka tak sayang bisa berganti sudah kenal Nasi Goreng jadi ingin kenalan dengan Indonesia.

Hmmmm, jadi kebayang jika suatu hari Pemerintah Indonesia membuat Festival Kuliner di Manchester, lalu kita perkenalkan sajian khas lainnya, semisal Nasi Gila? Siapa tahu orang bule di sana makin menggila cintanya dengan negara kita.

Halusinasiku pun pudar setelah melihat nasi goreng di menu itu seharga 7,45 poundsterling, mewek.

Ijo Royo Royo Gedungku

Sudah saatnya ribuan gedung di Jakarta dipaksa untuk bersolek menggunakan pakaian dari tetumbuhan. Istilah kerennya bio walls.

Selain kota metropolitan ini pelit dengan kawasan hijau, polusi udara beredar dimana -mana, serta sebagian besar wilayah sudah terlanjur diduduki oleh mall - mall berkilau.

Konsep vertical gardens menjulang ke atas bisa menjadi alternatif buat para tanaman tumbuh berkembang bersama wilayah yang sudah sempit dihuni lebih dari 9,5 juta jiwa manusia menurut BPS.

Dalam mempopulerkan gerakan ini, gedung - gedung pemerintahan bisa berinisiatif menjadi proyek percontohannya. Selain karena pihak mereka sering disorot media, juga bisa menjadi brand awarness yang positif untuk lembaganya. Pemerintah seakan terlihat pro dengan program penghijauan. Selain membantu menjernihkan udara, dinding tetumbuhan ini juga dapat membuat sejuk ruangan di dalamnya. Bayangkan saja jika kita ke kantor kelurahan buat ngurus KTP, sambil antri bisa menikmati hawa segar. Bagaimana kalau seluruh tembok Istana Presiden disulap menjadi rimbun. Setiap bulan kita bisa menikmati mekarnya ragam bunga dan serbuan kupu - kupu warna warni.

Indah bukan jika konsep ini dilaksanakan seperti foto di atas yang saya ambil ketika berada di London. Gedung itu seolah bernyawa, menghirup udara kotor dan menggantikannya dengan yang bersih. 

Amboyyyyy.