Untuk kedua kalinya, Tribeca Film Festival bekerja sama dengan Vine membuat kompetisi film pendek (banget) dengan nama #6SECFILMS Competition. Ajang bagi filmmaker untuk ditantang membuat karya yang bercerita dengan durasi 6 detik saja!
Nah kali ini saya iseng - iseng untuk berpartisipasi dengan konsep transformasi angka. Berhubung syaratnya hanya boleh merekam maksimal 6 detik, maka saya mencoba bermain dengan angka 1 hingga 6. Setiap nomer menjadi sebuah adegan.
Akhirnya terciptalah cerita tentang seorang pria berbaju hitam berkenalan dengan sosok wanita yang sedang duduk di teras, pada akhirnya cinta lah yang mempersatukan mereka. Cieehh!
Karya ini saya buat selama 1 hari, dengan bantuan buku gambar A3, drawing pen ukuran 0.1 dan spidol untuk whiteboard.
Berikut ini cuplikan behind the scene nya ;p
Ada dua penentuan pemenang di kompetisi kali ini, yaitu voting dari penonton online dan versi juri.
Nah, dengan demikian, saya mohoooon sekali kalian meluangkan waktu untuk mem-vote karya saya di link ini >> http://tribecafilm.com/online/competitions/6second?_s=443908246190182400
Semoga vote kalian menjadi berkah dan dibalas dengan rejeki berlimpah, aamiinn!
Yo wes, gitu saja, saya mau semedi dulu cari wangsit... (ora nyambung).
Oh iya, kalian juga ikutan dong, biar karya video dari Indonesia makin dikenal dunia!
Monggo >> https://tribecafilm.com/online/competitions/6second
Showing posts with label Animasi. Show all posts
Showing posts with label Animasi. Show all posts
Lowongan Kerja Ala Studio Animasi Ghibli
Ketika melakukan kunjungan ke Jurusan Animasi di Tokyo Polytechnic University, iseng - iseng saya mengamati papan pengumumannya.
Penasaran saja, seperti apa sih gaya pengumuman perekrutan SDM untuk industri animasi di sana.
Bisa disimpulkan sebagian besar visual penampilan iklan yang saya lihat tidak mencerminkan dunia kreatif penuh warna warni, malah terkesan seperti lembar lowongan untuk kantor serius.
Secara random saya menunjuk salah satu kertas pengumuman lowongan kerja untuk minta di "translate" kan ke dalam bahasa Indonesia oleh teman penerjemah.
"Oh kalau itu dari perusahaan animasi yang sangat disegani di Jepang, Studio Ghibli!" Ujar sang penerjemah antusias.
Saya pun gak kalah penasaran untuk minta penjelasan lebih lanjut.
![]() |
| Wujud Lowongan Kerja Studio Animasi Ghibli itu... |
Berikut ini rangkuman pengumuman lowongan kerja di Studio Ghibli hasil penerjemah yang mendampingi saya ^^
Dicari : Animator & Background Artist
Gaji : 167.000 Yen / Bulan (Yaa kira - kira sekitar 16 Jutaan Rupiah)
Catatan : Mendapat Bonus 2 x Gaji dan Asuransi
Gaji : 167.000 Yen / Bulan (Yaa kira - kira sekitar 16 Jutaan Rupiah)
Catatan : Mendapat Bonus 2 x Gaji dan Asuransi
Syarat :
Mengirimkan gambar manusia dengan teknik "manual drawing" sebanyak 2 lembar ukuran kertas B4.
Gambar menggunakan pensil atau cat air.
Mengirimkan gambar manusia dengan teknik "manual drawing" sebanyak 2 lembar ukuran kertas B4.
Gambar menggunakan pensil atau cat air.
Apabila diterima, tahap berikutnya adalah mengikuti proses interview dan tes tulis.
Tes tulisnya adalah, kalian akan diberi 3 kata lalu mendeskripsikannya dalam bentuk storyboard, puisi atau cerita pendek.
Tes tulisnya adalah, kalian akan diberi 3 kata lalu mendeskripsikannya dalam bentuk storyboard, puisi atau cerita pendek.
Jika lulus, maka kalian bisa ngantor di Ghibli selama 10 hari untuk di test lagi..
Dari 10 hari itu akan dinilai, apakah kalian kinerjanya bagus apa ndak...kalau ndak..yaa out!
Begitu kira - kira cermin perekrutan SDM untuk Studio Animasi Ghibli.
Jika kalian belum tahu apa itu Ghibli, silahkan Google saja. Pokoknya doi adalah studio paling disegani di Jepang, soalnya sering dapet Piala Oscar. Mancaapp!
Jika kalian belum tahu apa itu Ghibli, silahkan Google saja. Pokoknya doi adalah studio paling disegani di Jepang, soalnya sering dapet Piala Oscar. Mancaapp!
![]() |
| Profil Studio Ghibli, Founder : Hayao Miyazaki dengan karya - karya mutakhirnya. |
Ibu Nyentrik Berambut Keriting di Rumah Kertas
Pintu biru itu sudah ada di hadapan saya, namun tidak ada semacam plang yang menunjukkan sebuah kantor salah satu festival animasi yang legendaris di dunia yaitu Hiroshima International Animation Festival (HIAF). Jangan - jangan salah alamat ?
Aki Hoashi dari Japan Foundation, sebagai penerjemah dan host yang mengundang saya ke Jepang sudah ainul yaqin (walau tampangnya juga sedikit agak ragu) bahwa tempat yang kita tuju untuk sowan sudah sesuai catatan di buku hitam kecilnya.
Bel cempreng membuat pintu biru itu terbuka. Tampak sosok ibu berambut seperti mie keriting, berpenampilan eksentrik menyapa dengan hangat. Ibu itu bernama Sayoko Kinoshita, founder dari HIAF. Rambut dan senyumannya sama - sama terlihat segar, rasanya ingin segera ikutan keramas saja.
Takjub saya melihat isi kantornya. Di ruangan yang cukup sempit terdapat tumpukan kertas dan kaset di segala penjuru. Lebih mirip toko jual beli kertas kiloan daripada sebuah kantor festival film animasi. Sepertinya tidak ada celah untuk bernafas bagi dinding, jika ada ruang kosong pasti sudah terisi seombyok'an kertas yang sudah antri menanti di lantai.
Langkah kaki berjalan pelan - pelan menuju ruang meeting mini melalui lorong yang dikelilingi oleh menara - menara yang terbuat dari tumpukan kaset dan buku. Deg-deg'an, takut jika tidak sengaja kesenggol mengambrolkan susunannya.
Sayoko Kinoshita setiap hari bekerja di ruangan sekitar (mungkin) 30 meter persegi ini, ditemani 1 asistennya untuk menghandle paper works HIAF yang diadakan setiap 2 tahun sekali. Festival besar ini sejajar dengan Annecy International Animated Festival di Perancis dan Ottawa International Animation Festival di Canada, ternyata memiliki kantor sekaligus ruang arsip video yang mini.
Menghandle sekitar 1.900an film dari 50an negara dengan ruangan ukuran minim seperti ini membutuhkan tantangan tersendiri menurut saya. Sumpek harus menjadi kata yang dihapus di otak mereka jika ingin bekerja di sini.
Hmmm, pelajaran dari kunjungan ini adalah tidak perlu kantor yang mewah dan heboh jika hanya menghasilkan karya cetek, Sayoko Kinoshita membuktikan bahwa walaupun kantornya lebih mirip gudang dengan setumpuk berkas berbagai rupa tetapi mampu membuat festival animasi berwarna yang membanggakan dan membawa nama harum kota Hiroshima.
Sayonara.
Aki Hoashi dari Japan Foundation, sebagai penerjemah dan host yang mengundang saya ke Jepang sudah ainul yaqin (walau tampangnya juga sedikit agak ragu) bahwa tempat yang kita tuju untuk sowan sudah sesuai catatan di buku hitam kecilnya.
Bel cempreng membuat pintu biru itu terbuka. Tampak sosok ibu berambut seperti mie keriting, berpenampilan eksentrik menyapa dengan hangat. Ibu itu bernama Sayoko Kinoshita, founder dari HIAF. Rambut dan senyumannya sama - sama terlihat segar, rasanya ingin segera ikutan keramas saja.
![]() |
| Satu celah sebagai ruang arsip film, satu celah lagi untuk berbagai dokumen. |
![]() |
| Ruang kerja director dan asistennya. |
Langkah kaki berjalan pelan - pelan menuju ruang meeting mini melalui lorong yang dikelilingi oleh menara - menara yang terbuat dari tumpukan kaset dan buku. Deg-deg'an, takut jika tidak sengaja kesenggol mengambrolkan susunannya.
Sayoko Kinoshita setiap hari bekerja di ruangan sekitar (mungkin) 30 meter persegi ini, ditemani 1 asistennya untuk menghandle paper works HIAF yang diadakan setiap 2 tahun sekali. Festival besar ini sejajar dengan Annecy International Animated Festival di Perancis dan Ottawa International Animation Festival di Canada, ternyata memiliki kantor sekaligus ruang arsip video yang mini.
Menghandle sekitar 1.900an film dari 50an negara dengan ruangan ukuran minim seperti ini membutuhkan tantangan tersendiri menurut saya. Sumpek harus menjadi kata yang dihapus di otak mereka jika ingin bekerja di sini.
Hmmm, pelajaran dari kunjungan ini adalah tidak perlu kantor yang mewah dan heboh jika hanya menghasilkan karya cetek, Sayoko Kinoshita membuktikan bahwa walaupun kantornya lebih mirip gudang dengan setumpuk berkas berbagai rupa tetapi mampu membuat festival animasi berwarna yang membanggakan dan membawa nama harum kota Hiroshima.
Sayonara.
![]() |
| Sayoko Kinoshita (kanan) dan asistennya dengan background tumpukan kaset dari berbagai negara. |
![]() |
| Saya kasih jempol dulu untuk ibu yang satu ini. |
Rumah Sakit Kuda Gaul - Seri 1
Saya bersama istri bergegas menuju sebuah pemutaran kompilasi animasi pendek dari Jepang yang merupakan rangkaian acaranya London International Animation Festival (LIAF) 2012.
Waktu sudah menunjukan jam 17.50 menjelang malam. Pertanda acara segera akan dimulai, membuat kaki ini melangkah cepat menuju Horse Hospital. Salah satu tempat dari 3 lokasi yang disewa LIAF untuk penyelenggaraan festivalnya.
The Horse Hospital? Kalau di translate artinya kan Rumah Sakit Kuda? Apa iya, sang pemilik tempat adalah mantan dokter hewan ? Atau jangan - jangan tempat yang sedang kita tuju adalah rumah sakit kuda beneran.
Akhirnya kami tiba di Russell Square Station, dan sesuai petunjuk Google Map, Horse Hospital tidak jauh dari stasiun tersebut. Suasana sedikit kelam sembari diserang suhu 7 derajat celsius membuat kami buru - buru sambil menggigil ingin segera sampai di tempat tujuan.
Tulisan The Horse Hospital dengan huruf kapital berwarna putih terpampang di tembok batu bata yang lusuh tampak berumur tua. Hmmm kami menjadi ragu, apa benar ada pemutaran film di sini.
Gedung yang hanya diterangi lampu neon ini terlihat seperti tidak berpenghuni. Seolah mengamini bahwa kami salah alamat. Rasa tidak percaya bahwa ada sebuah festival animasi di tempat tersebut membuat saya dan @helloarie berinisiatif mengintari area tersebut.
Terlihat dari jauh seseorang bule berkelamin jantan keluar melalui satu satunya pintu yang bisa kami lihat. Hmmm apakah itu pintu menuju sebuah acara? Kok tidak ada semacam poster atau grafis menandakan festival animasi? Meragukan.
Perlahan tapi pasti, kamipun mendekat ke pintu tersebut. Lega rasanya, tampak kertas putih A4 tertuliskan nama acara yang sedang kita cari. Hmmm walaupun sebenarnya lebih cocok sebagai petunjuk acara lomba mancing ikan daripada untuk festival animasi kelas internasional.
Terlihat ada beberapa orang sedang menggerombol di lorong kelam berwarna merah. Mirip masuk ke sarang Drakula.
Ada apa gerangan di sana?
Bersambung dulu deh biar penasaran :)
Waktu sudah menunjukan jam 17.50 menjelang malam. Pertanda acara segera akan dimulai, membuat kaki ini melangkah cepat menuju Horse Hospital. Salah satu tempat dari 3 lokasi yang disewa LIAF untuk penyelenggaraan festivalnya.
The Horse Hospital? Kalau di translate artinya kan Rumah Sakit Kuda? Apa iya, sang pemilik tempat adalah mantan dokter hewan ? Atau jangan - jangan tempat yang sedang kita tuju adalah rumah sakit kuda beneran.
Akhirnya kami tiba di Russell Square Station, dan sesuai petunjuk Google Map, Horse Hospital tidak jauh dari stasiun tersebut. Suasana sedikit kelam sembari diserang suhu 7 derajat celsius membuat kami buru - buru sambil menggigil ingin segera sampai di tempat tujuan.
Tulisan The Horse Hospital dengan huruf kapital berwarna putih terpampang di tembok batu bata yang lusuh tampak berumur tua. Hmmm kami menjadi ragu, apa benar ada pemutaran film di sini.
Gedung yang hanya diterangi lampu neon ini terlihat seperti tidak berpenghuni. Seolah mengamini bahwa kami salah alamat. Rasa tidak percaya bahwa ada sebuah festival animasi di tempat tersebut membuat saya dan @helloarie berinisiatif mengintari area tersebut.
Terlihat dari jauh seseorang bule berkelamin jantan keluar melalui satu satunya pintu yang bisa kami lihat. Hmmm apakah itu pintu menuju sebuah acara? Kok tidak ada semacam poster atau grafis menandakan festival animasi? Meragukan.
Perlahan tapi pasti, kamipun mendekat ke pintu tersebut. Lega rasanya, tampak kertas putih A4 tertuliskan nama acara yang sedang kita cari. Hmmm walaupun sebenarnya lebih cocok sebagai petunjuk acara lomba mancing ikan daripada untuk festival animasi kelas internasional.
Terlihat ada beberapa orang sedang menggerombol di lorong kelam berwarna merah. Mirip masuk ke sarang Drakula.
Ada apa gerangan di sana?
Bersambung dulu deh biar penasaran :)
Subscribe to:
Posts (Atom)










