Showing posts with label Sembarang. Show all posts
Showing posts with label Sembarang. Show all posts

Ngilmu di Buka-bukaan Netizen #MampirBukaLapak

Kapan itu dapat email isinya undangan sharing ilmu di acara Lingkar Kemang : Buka-bukaan Netizen. Disimak dari para pembicaranya...byuh! Hukumnya langsung wajib.

Dari Ainun Chomsun....seorang blogger handal, Muhadkly Acho...komika jenius dan twit seleb, Boy... Instagram influencer ciamik, Cameo Project...Youtuber fenomenal, dan Achmad Zaky....CEO Bukalapak.com yang sedang populer juga jadi bintang iklan untuk produknya, keren sob!

Dilaksanakan di kantor Bukalapak.com, di daerah Kemang dari jam 10 hingga jam makan siang, dengan kudapan yang yes, akhirnya saya bisa menghasilkan note - note ringkas untuk pembaca tentang diskusi Buka - bukaan Netizen.

Hasil sketsa, berdasarkan urutan abjad dari narsum :)







Terima kasih banyak untuk Bukalapak.com untuk acara ngilmunya di tempat yang seru. Cukup kaget, setelah acara usai, CEO Bukalapak.com nyamperin saya dan mengatakan "Saya suka beli kaos KDRI dari produk Anti Sinetron!"

Byuuuh! Ati ini langsung makjeglek. Ternyata dia juga seorang Gembolers (ucapan untuk sahabat KDRI). Langsung pingin nge-frame foto ini...cari dulu frame-nya di Bukalapak.com kali ya?

Kapan Kantor Pemerintah Indonesia Bisa Seperti Belanda ?

Gedung berdesain kuno dua tingkat yang tidak terkesan megah tersusun dari batu bata cokelat tua berlumut hijau sedang diperkenalkan kepada saya.

"Yak, ini tempatnya Perdana Menteri Belanda ngantor!" Ungkap Wati Chaeron, teman saya yang sudah menetap di Den Haag.

"Seriuusss?" Tanya saya heran plus penasaran.
Maklum, otak saya langsung membandingkan dengan kantor - kantor pemerintah di Republik Indonesia. Umumnya pejabat tinggi kita bekerja di gedung besar dengan halaman luas dan pagar tinggi menjulang, seolah memberi jarak dengan publik.

Nah ini kok negara yang pernah menjajah kita malah lebih moderat, humble, tidak ada jarak. Saya bisa mendekati kantor Perdana Menteri Belanda dengan sangat mudah dan nyaman, tidak ada protokoler ribet ..malah susah banget cari satpam di sekitar kantor itu.

Tergelitik di pemikiran saya, kok Belanda tidak mewariskan budaya ini ke pejabat di Indonesia?

Makin kaget saja saya ketika diperlihatkan ruang publik di area kantor kementerian dimana masyarakat Den Haag sudah terbiasa melihat menteri - menterinya makan siang sambil duduk santai di sana, menyapa masyarakatnya.
Salah satu tempat nongkrong para menteri di Belanda...
"Kamu tahu nggak Dit, Perdana Menteri Belanda ini suka nyetir dan parkirin mobil sendiri" timpal Mbak Wati.
Sambil mengunyah kentang hangat, aku termenung merindukan statement itu muncul juga dari pejabat Indonesia.

Nyesss!
Jarak yang tidak terlalu jauh dengan publik membuat kantor ini terkesan nyaman...Foto dulu aahh sambil bawa kentang anget..nyesss!
Kayak gini nih Perdana Menteri Belanda markirin sendiri mobilnya.
Sumber : http://travelphotos.everything-everywhere.com/

Rapinya Pencitraan Politisi Jepang


Wajahnya menunjukan keyakinan untuk mengajak berbuat sesuatu, ditambah dengan kepalan tangan yang mantap. Sebuah poster iklan politisi Jepang terpampang di tembok perkantoran dekat pedestarian di sudut kota Tokyo.

Hal yang menarik bagi saya dari sudut pandang orang Indonesia adalah bukan masalah desain posternya, tapi kerapian memasangnya.

Jelas sekali, di ranah nusantara masih menggunakan konsep serangan masif acak kadul dalam hal kampanye. Asal tempel di mana - mana dengan tata letak berantakan.

Apa mungkin pola pikir "zen" yang mengagungkan "the art of simplicity" mempengaruhi para pemasang poster tersebut?

Etika berpolitik bisa saja dilihat dari cara memasang poster.
Efisien atau menghamburkan? Rapi atau jorok? Mudah dibersihkan atau nglepasnya susah dan bikin kotor?

Jangan - jangan kinerja politisi bisa diprediksi dari cara memasang media pencitraannya?  Sayangnya yang sering saya lihat kebanyakan di jalanan Indonesia terpajang serampangan, mengotori ruang publik.
Pemasangan poster tidak bertubi - tubi memenuhi tembok, cukup satu dan fokus.

Kerapian pemasangan sangat dijaga....

Menggunakan semacam silotip yang mudah dilepas, biar gak ngerusak tembok... coba Indonesia meniru seperti ini yaa  :)

Juara Satu Mengajar Kelas Satu!

Jam menunjukan pukul delapan pagi, saatnya saya dan mbak Widia rekan saya yang berprofesi sebagai  ahli hukum akan mengajar di Kelas 1.
Melalui program "Kelas Inspirasi", kita diajak secara sukarela menjadi guru SD dalam sehari untuk menginspirasi cita - cita anak - anak melalui cerita tentang profesi kita masing - masing.

Kami kebagian mengajar Kelas 1, 3, 4, 5, dan 6. Nah masalahnya yang sering saya dengar, mengajar kelas 1 itu butuh effort yang super lebih. Mengapa ? Banyak pengamat mengatakan ketika anak - anak di umur 7 tahun berada di sekolah, mereka sebenarnya masih berada di transisi antara bermain dan "belajar".

Mereka tidak segan untuk teriak protes, atau ribut dengan kawan lainnya, bahkan lari mondar mandir di ruangan mengacuhkan sang guru.

Jujur ini adalah pengalaman pertama saya mengajar di depan anak - anak Kelas 1. Ah... saya harus mencari akal!

Pada akhirnya saya mencoba menghadapi mereka dengan senjata andalan yang ada digenggaman saya. Spidol hitam!

"Anak - anaaaakkk! Sekarang lihat kakak menggambarrrr yaaaaa??!!!!"
Teriak saya seakan diguyur keringat dingin segayung. Was - was jika mereka tidak berminat dengan gagasan mengajar saya di papan tulis.

Goresan pertama saya adalah menggambar wujud ikan, sambil mengajak si krucil untuk menebaknya.
"Iniiiii ikaann apaa hayoooo ??" Pancing saya.

"Lumba - lumbaaaaa", "Hiuuuuuuu", "Ikan Cupaaangggg" -_-#

Perlahan - lahan, separuh pengisi kelas kompak untuk maju duduk paling depan. Seolah mereka semua ingin menjadi sutradara untuk menentukan gambar apa yang muncul berikutnya.

"Ommm, gambar ulaarrrr doonggg!" "Gambariin Narutoooo Pakkk!" "Gambar kapal selammmm doongg!!!"

Lega rasanya, proses mengajar di depan Kelas 1 mengalir dengan sukses, bahkan muncul improvisasi - improvisasi baru. Ketika saya menggambar gurita, anak - anak ikut menghitung perlahan - lahan setiap tentakel yang saya gores. "Satuuu.....Duaaaa.....Tigaaaa....Empaaaattt....Limaaaaaa dsb"
Saya menyuruh mereka menyanyikan lagu Balonku Ada Lima sambil saya mencoba menvisualisasikan objek - objek yang ada di lagu tersebut. "Meletus Balon Hijau...Dooorr", mendadak tampak goresan ledakan di papan tulis, menjadikan jumlah Balon menjadi empat.

60 menit tidak terasa berlalu. Keringat dingin berubah menjadi keringat antusias. Saya tidak hanya mengajar, tetapi sebetulnya juga belajar. Belajar tentang dunia mereka, minat mereka, imajinasi mereka.

Saya seperti mendapatkan gelar juara satu dalam pelajaran mengajar kelas satu! LULUS!

Antusias tinggi, sampai naik bangku menjulurkan jari setinggi - tingginya.
Kompak berkumpul di bangku paling depan mengikuti pelajaran berimajinasi.
Menggambar Dunia Laut, tampak rambutan mengambang di air bersama anak rambutan :)
Menjadi Guru Kelas 1 itu tidak mudah kawan :)

Lahirnya Buku "Sila Ke 6 : Kreatif Sampai Mati"

Jam 6 sore, tanggal 18 Oktober 2011, saya mendapat email dari salah satu staff penerbit buku Bentang Pustaka. Sosok perempuan bernama Putri Nurnitasari memperkenalkan diri dan menceritakan profil singkat tentang buku - buku populer yang pernah mereka rilis.

Tanpa ba-bi-bu, di surat elektronik yang sama, perempuan tersebut menodong dengan halus untuk mengajak saya menulis buku tentang kreativitas. Weleh - weleh, la wong pengalaman menulis saya ini bagaikan singkong yang belum direbus. Ndak mateng. Mimpi apa mereka kok mau - maunya menggandeng saya menciptakan bacaan ratusan lembar.

Walaupun saya sudah pernah memiliki pengalaman membuat komik Mas Gembol bersama penerbit Bukune dan menulis beberapa artikel di media cetak, tetapi ditantang untuk menulis sebuah buku non fiksi ? Hmmm sepertinya projek yang terlalu serius untuk saya.

Pertemuan pertama kami  di kantor Tebet bertujuan untuk menunjukkan niat serius pihak Bentang Pustaka melamar saya menjadi penulis buku. Lembaran kontrak kerjasama pun sudah siap dari tangan Mbak Putri.

Memang sih menulis buku serius adalah bagian dari cita - cita saya, tetapi untuk jangka waktu 3-5 tahun ke depan, setelah matang berkecimpung dengan profesi yang saya geluti.

Namun, ketika ada pihak lain memberi kepercayaan kepada saya untuk hal yang belum saya yakini bisa dilakukan, rasanya seperti bercermin bahwa sesungguhnya diri ini bisa, tetapi belum kelihatan saja karena belum dilaksanakan.

Beberapa kali rasa frustasi menyerang otak ini, bayangkan sudah setengah tahun projek menulis karya non fiksi ini tidak kunjung kelar. Secara bersamaan kerjaan lain hadir menyibukkan pikiran ini. Sepertinya kegiatan menulis memang idealnya diberi ruang leluasa tanpa digoda dengan deadline lainnya. Saya membayangkan suasana damai di tepi pantai sambil memangku laptop dan asik mengetik imajinasi ke sebuah tulisan. Aaahhh seandainya...

Mungkin karena kreasi buku ini dikarang sambil disambi keriuhan kerjaan lainnya dalam suasana rempong, akhirnya draft penulisan saya kelar dalam waktu 1 tahun. Tepatnya pada tanggal 17 Oktober 2012. Beda 1 hari dengan tanggal awal mula saya menerima email tawaran projek ini.
Screenshot Penampakan Rilis Perdana Pre Order Buku #KSM
Haru biru mendera perasaan ini, ketika terpampang secara perdana di website Mizan.Com. Menunggu selama 12 bulan memang gak karuan rasanya. Sedih, senang, sebel, bimbang hingga galau akut sudah saya lalui menanti kelahiran buku "Sila Ke - 6 : Kreatif Sampai Mati".

Mbak Putri mengirim pesan melalui sms, "200 buku pesanan pre-order siap untuk ditanda-tangani".
Melotot shock mata ini membaca kalimat tersebut. Gagal paham melihat respon pembeli, padahal mereka belum tahu jerohan isi buku dari penulis pemula seperti saya.

Terima kasih buat mbak Putri dan Tim Bentang Pustaka yang telah mempercayai saya sebagai penulis setebal 300-an halaman. Cita - cita jangka panjang untuk merilis buku sudah terealisasi lebih cepat dari prediksi saya.

Efek samping dari peristiwa ini ? Jadi doyan curhat melalui tulisan, salah satunya lewat blog ini :)
Pantang Menyerah Men-TTD in 200 Buku Pre Order #KSM :)

Foto Dua Pemuda di Infotainment

Handphone berdering pagi - pagi, tertulis di layar bahwa bapak saya di Malang sedang memanggil. Biasanya sih menanyakan bantuan pembuatan desain gratis untuk projek - projek pribadinya :)

Namun kali ini topik yang dibahas jauh di luar kebiasaannya, tentang infotainment!
Foto dua pemuda, antara saya dengan seorang mahasiswa Indonesia di London sedang lalu lalang secara intensif di layar kaca khususnya acara gosip.

Bapak saya seolah tidak percaya, "Kamu temennya anaknya Hatta Rajasa ? Kok kata orang - orang fotomu sering muncul di acara infotainment bareng Rasyid ?"

Beberapa hari sebelumnya, pernyataan yang sama bermunculan di timeline Twitter saya. Awalnya saya anggap becandaan dan sekedar HOAX, karena saya tidak melihat secara langsung foto itu. Tetapi makin lama makin banyak yang mengaminin bahwa tampak foto sosok Rasyid berdampingan akrab dengan saya.

Tidak mungkin saya harus mantengin terus acara gosip untuk meyakinkan kabar burung yang berdatangan di burung Twitter itu.
Dengan sigap, saya dan istri @helloarie bertanya ke Mbah Google untuk memastikan, sebetulnya foto mana yang menjadi heboh dan tersebar di ranah infotainment itu.

"Pasti Foto Ini!" Ujar @helloarie setelah berhasil menemukannya via Google Image Search Engine dari koleksi foto milik Rasyid di dunia Twitter.

Setelah diamati, jadi teringat bahwa foto di atas diambil ketika saya mendapat undangan menjadi salah satu pembicara di acara PPI Dunia yang diselenggarakan di Kedutaan Indonesia di London Inggris.

Saya benar - benar tidak menyangka bahwa perjumpaan 5 menit untuk berfoto bersama adalah Rasyid, anak Hatta Rajasa yang sedang ramai di pemberitaan media.

Biasanya kalau ada anak - anak populer, informasi bernada bisik - bisik ala intel selalu terdengar, "eh ini anaknya si anu loh, itu anaknya si anu loh". Namun pria kalem itu seperti mampu membumi menutupi sosok anak pejabat.

Tidak ada kesan menonjol dan vokal bahwa Rasyid merupakan anak Ketua Partai PAN. Dia seolah menyatu sebagai mahasiswa yang sedang bertugas menjadi salah satu panitia di acara PPI Dunia.

Kini Rasyid sedang menghadapi problema berat ditambah dengan pro kontra tentang kasus kecelakaannya yang sudah melebar menjadi ranah politik kelas atas.

Semoga masalah kecelakaan ini segera selesai terobati. Amin.

Arigato Mas Ito


Facebook Message mendadak menotifikasi pesan baru dari mobile phone saya, "Halo Adit, saya akan berkunjung ke Distromu lagi". Berita itu datang dari teman saya yang berasal dari Jepang, Masatsugu Ito.

Perkenalan pertama terjadi ketika KAJI (Komunitas Alumni Jepang Indonesia) sebuah komunitas masyarakat Indonesia yang pernah bersekolah atau bekerja di Jepang, memboyong Ito ke kantor saya untuk menjalin networking.

Bisnis utama pria yang sepertinya berumur kepala dua ini adalah export gadget second ke Amerika dan Eropa, namun disela waktu senggang, Ito juga mengelola pages Facebook bernama Japan4You. Jumlah pengunjung yang nge"like" sejumlah 100 ribu orang. Nah menariknya 50 ribu orang tersebut berasal dari Indonesia.

Ito menjadi penasaran atas fenomena itu, sehingga dia rela merogoh kocek sendiri untuk berangkat ke negeri kita, mempelajari dan mempelajari, ada apa dengan Indonesia ?

Saya cukup salut dengan kengototan Ito, bayangkan sudah lima kali dia bolak balik Jakarta Tokyo, dan yang membuat saya senang adalah setiap kali tiba di Jakarta, dia selalu mampir untuk memborong kaos KDRI , he he (Alhamdulillah).

Kali ini dia datang ke Jakarta dengan agenda besar. Membuat gathering untuk mengumpulkan pengikut Japan4You di Indonesia. Sebuah acara tatap muka dan kulo nuwun antara admin dengan pengikutnya.

Ito mendatangi distro saya bersama teman - teman Jepangnya di daerah Tebet untuk memilih kaos yang cocok dipakai di hajatan besarnya. Kaos bergambar Soekarno Hatta akhirnya terpilih menemani acara Japan4You yang diselenggarakan esok harinya.

Rasa gelisah terpancar di wajahnya. Kemungkinan besar dia sedang memikirkan hiruk pikuk persiapan acaranya yang akan diselenggarakan di Kemang 28. Saya bisa memaklumi, pastinya susah dan bikin deg-deg an ketika orang asing membuat event di negeri lain dalam waktu yang terbatas karena kendala jarak.

Esoknya menjelang sore, saya menyempatkan diri untuk menengok acara Japan4You. Tampak puluhan orang duduk menikmati band indie lokal menyanyikan lagu - lagu populer Jepang. Ito tampak sumringah menyambut dan menyapa komunitasnya.

Walaupun pengunjung yang datang tidak sesuai ekspektasinya,  Ito tetap senang dengan lancarnya event ini. Bahkan dia sudah berangan - angan merancang bisnis di ibu kota kita.

"Dalam waktu dekat ini saya akan sering ke Jakarta. Saya ingin membuka kantor di Jakarta, mohon bantuannya Adit-san" ujarnya dengan tatapan penuh harap. Sorotan lampu kamera dari tv lokal untuk wawancara akhirnya menggiring Ito untuk melanjutkan kesibukannya.

Masatsugu Ito, buat saya adalah contoh sosok anak muda Jepang yang penuh ambisi. Membuat otak ini penasaran menunggu progress yang sudah dan akan ia bangun di Indonesia. Aah, minimal Ito sudah membangun lemarinya dengan koleksi kaos KDRI.

Arigatoo

Umami Melihat Kaos KDRI


Ngemall sudah menjadi gaya hidup kaum urban seperti saya. Ngemall juga menjadi tolak ukur pengguna karya - karya saya yang dipakai oleh masyarakat.

Maklum, salah satu usaha saya adalah distro t shirt dengan branding KDRI. Dimana salah satu konsumen utamanya adalah anak muda gaul di dunia mall.

Menjadi kepuasan tersendiri jika saya tidak sengaja melihat remaja sedang menggunakan kaos hasil desain saya, rasanya seperti mendapatkan umami! Sebuah kata dari Jepang yang artinya kurang lebih seperti merasakan kelezatan di lidah dan membuat otak meledak keenakan! Sensasional!

Sering kali saya melihat kaos KDRI berseliweran di tempat gaul ( Alhamdulillah). Tetapi kebahagiaan itu cuma hanya diteriakan di hati, yah paling banter riang bersama istri kalau lagi jalan berduaan.

Lama - lama kebahagiaan itu ingin saya teriakan ke pengguna kaos KDRI yang ada di depan mata. Tapu bagaimana caranya ya? Jangan sampai saya teriak beneran kaya orang gila.

Suatu malam ketika kami sekeluarga sedang makan di salah satu fast food Mall Kasablanka, tampak sepasang muda mudi antri memesan makanan. Ternyata sang cowok menggunakan kaos KDRI dengan gambar Barong Bali.

Ahhh, secara spontan, saya ambil kartu nama di dompet, dan dibaliknya buru - buru saya tulis menggunakan bolpen istri yang intinya menyatakan ucapan terima kasih serta ada sedikit privilege berupa diskon 50% untuk pembelian kaos berikutnya.

Saya samperin si pemuda yang mulutnya sedang penuh dengan kentang goreng itu. Berbincang bincang singkat sambil menyerahkan kartu nama.

Entah apa yang ada dipikiran si cowok itu selain harus terpaksa menelan makanannya karena saya todong ngobrol mendadak, dan ekspresi si pacarnya yang agak kaget karena tiba - tiba diganggu orang tak dikenal sambil nyodorin kartu nama, persis tukang asuransi kejar setoran.

Yang penting teriakan di hati saya sudah terucap. Bentuk apresiasi antara produsen ke konsumen telah tercipta. Umami saya sudah dirasakan oleh penikmat kaos KDRI.

Umaamiiii, nikmaaatttt.

Peduli Pemakai Eskalator


Pernah sebel ketika kalian ingin berjalan buru buru melalui eskalator namun terhadang 2 orang yang asyik ngobrol sehingga membuang waktu kalian ?

Hal ini tidak akan terjadi kalau masyarakat kita sudah terbiasa dididik untuk tidak egois dalam penggunaan ruang eskalator. Harusnya diatur bagi individu yang sedang nyantai bisa berdiri di lajur kanan, buat yang terburu buru bisa gunakan lajur kiri.

Sudah banyak masyarakat di negara lain seperti Jepang atau Inggris melakukan hal simpel ini sebagai bagian dari budaya mereka.

Langkah mudah yang mungkin bisa kita mulai adalah dengan sosialisasi melalui poster atau media visual lainnya. Pemaparan konsep berbagi ruang eskalator sejak SD juga efektif untuk dilakukan.

Kebayang kan kalau lagi kebelet pipis terus toiletnya di lantai atas ? Jalan satu satunya hanya lewat eskalator yang terhadang 2 orang sedang heboh membawa tas belanjaan?

Rasa sungkan campur rempong biasanya muncul. Antara kita musti ngalah, atau orang di depan kita sibuk pindah cari celah kosong, atau memang tidak bisa berbuat apa apa karena seluruh eskalator sudah dikuasai orang - orang yang tidak sedang kebelet pipis.

Nasib.

Mereka Tidak Kreatif Dalam Urusan Sarapan Sir!

Piring putih itu terisi oleh scramble eggs, hash brown, sosis babi dan ayam, bacon, tomat panggang, kacang manis, jamur dan darah beku. Hidangan ini mereka beri nama Full English Breakfast. Hanya cocok tampil untuk dinikmati ketika saat sarapan. Makin pas jika ditemani oleh teh panas atau kopi. Sebuah santapan khas dari Inggris Raya.

Tetapi berbeda rasanya jika menu tersebut tersaji setiap pagi dan berhari - hari di hotel yang saya inapi. Mblenek* akan menjadi nama tengah saya. (*Bahasa Jawa : Rasa bosan pingin muntah).
Awalnya saya merasa hotel yang saya sewa kebetulan tidak punya chef kreatif, menu yang ditawarkan ya Full English Breakfast setiap paginya. Rupanya hal tersebut bukan kebetulan, tetapi kesengajaan dari kaum chef di Inggris.

Kebetulan saya sudah 5 kali mengunjungi ke berbagai kota di negara Inggris, mulai dari London, Wales, Bristol, Oxford hingga Manchester. Bermacam - macam tempat penginapan sudah saya tiduri, dari hotel bintang 5, hotel kuno, hotel modern, hotel murah, hingga dormitory (1 kamar untuk rame - rame dengan orang lain). Ternyata menu sarapannya sama semua! Full English Breakfast! Bah!

Saya curiga, sepertinya ada sindikat penguasa alur distribusi menu sarapan. Semacam mafia yang memastikan bahwa seluruh hotel harus,makan English Breakfast. Ha ha..
Di sisi lain, kejadian ini sudah selayaknya dilaporkan ke Kementerian Ekonomi Kreatif di sana. "Pak, menu di hotel sampeyan ndak kreatif blasss!" Tulis saya suatu saat nanti :)

Harap maklum, saya sebagai orang Indonesia terbiasa dengan sarapan yang variatif kalo bisa setiap 2-3 hari ganti menu. Lemper, nasi kuning, pecel, bubur, rawon, tahu sumedang, roti cokelat, onde - onde, soto, indomie, mie sedap, sarimi, you name it lah.

Dalam masalah persarapan, saya kira kita harus bangga bahwa hotel - hotel di Indonesia lebih juara. Kita jauuuh lebih kreatif tentang variasi menu dibandingkan hotel di Inggris. Layak mendapat medali emas di olympiade London kategori sarapan pagi.

Selamat!

Ability Suite Berpintu Warna Setan Merah

Saya bersama rombongan sedang berjalan diantara dinding yang tersusun oleh batu bata. Hawa sejuk dan lembab tetap mengiringi kami yang sedang mengikuti tour stadion Old Trafford milik Manchester United.

Pria gundul berumur kira-kira 50an tahun bernama Mark dengan suara beratnya menghentikan langkah kaki kami. Wajahnya yang garang mirip pemain mafia di film Hollywood seolah berubah menjadi anggota  mafia yang tobat ketika menunjukan sesuatu. Sumringah.

Saya tengak tengok di depan tidak ada yang spesial, hanya ada pintu bercat merah mirip akses ruangan rahasia dengan tulisan "Ability Suite".

Mark mengatakan bahwa walaupun Manchester United adalah klub besar, tidak berarti cuek dengan fans penyandang disabilitas. Salah satu bentuk kepeduliannya adalah menyediakan fasilitas khusus bagi mereka dalam bentuk penyediaan ruang tunggu khusus dan nyaman bagi yang ingin menonton pertandingan. Itulah fungsi dari Ability Suite.

Tahun 2008 ketika Manchester United melakukan pertandingan final Piala UEFA Champions  melawan Chealsea di Moskow Rusia, sekitar 150 fans MU penyandang disabilitas diundang untuk terbang ke negaranya Vladimir Putin untuk mendukung secara langsung. Tentunya tanpa harus mengeluarkan poundsterling sepersen pun.

Hmmmm, saya hanya membatin, tentu saja program seperti ini akan dilaksanakan oleh klub - klub lokal di #Indonesiasik.
Pria gundul itu akhirnya balik badan, memimpin rombongan melalui lorong batu bata dengan sumringah.

Poppy Bunga di London Bukan Pemain Sinetron

Beberapa kali saya melihat anak muda berseragam tentara sedang berdiri tegap memegang kotak kardus berisikan sesuatu di pintu masuk berbagai mall di London.

Rasa penasaran membuat saya menghampiri salah satu dari mereka. "Ini apa ya?" Sambil tangan saya menunjuk isi kotak kardus.
"Ini Bunga Poppy" jawab pemuda berpakaian khas marinir berparas asia itu. "Buat apa?" Tanya saya dengan polos. "Untuk mengenang para pejuang, terutama di saat perang dunia pertama".
Hmmm, kalau di Indonesia, kita memang sudah punya Poppy Bunga, lumayan terkenal di sinetron dan gonta ganti pacar di acara gosip. Tetapi Bunga Poppy di Inggris lebih dasyat lagi tingkat kepopulerannya. Dari anak kecil sampai kakek buyut mengenalnya.

Di bulan November mereka merayakannya dengan menyematkan di dada imitasi Bunga Poppy dari bahan kertas yang salah satunya bisa didapat dari para perwira muda tegap sedang rela berdiri kedinginan di sudut mall itu.
Saya pun mencoba mengambil satu Bunga Poppy sebagai kenang -kenangan dengan cara menyumbang beberapa uang koin ke dalam tabung plastik yang sudah dipegang sang tentara.
Konsep ini bisa ditiru oleh Bangsa Indonesia untuk mengenang jasa para pahlawan kita selain juga dapat meningkatkan rasa nasionalisme.

Mungkin bisa dicoba dengan berkampanye menggunakan bunga melati? Tetapi tanpa harus dibantu oleh artis Poppy Bunga memakai seragam tentara sambil diliput infotainment setajam silet kan ?
Buat yang belum tahu Poppy Bunga.



Awas Jebakan Batman di Kotak Merah Ini


The Red Telephone Box, adalah istilah dari wujud foto di atas ini. Sebagian besar orang sudah mengasosiasikan kios telepon ini sebagai salah satu ikon populer di Inggris. Sudah barang tentu menjadi salah satu objek figuran bagi turis untuk bernarsis ria.

Namun saya sarankan untuk berhati-hati jika teman-teman ingin berfoto ria bersama telepon umum ini, terutama di kawasan kota London, waspada dengan jebakan Batman!
Beberapa kali saya masuk untuk menggunakan telepon, persentase kesempatan mencium bau pesing bisa sekitar 70%. Baunya seperti bunga bankai lagi pipis!

Analisa ngawur saya adalah mungkin banyak orang bule di sana susah mencari wc umum. Apalagi di saat musim dingin, saat tengah malam sambil minum alkohol, wuihh, keinginan buang air seni akan meningkat tajam.

Pemerintah London seakan cuek melihat kekemprohan (kejorokan) ini. Selain banyak telepon yang rusak dan hilang, banyak sekali si kotak merah itu ditempeli dengan stiker layanan seks premium bergambar wanita seronok.

Kembali ke masalah perpesingan, analisa ngawur saya lainnya adalah aroma tidak pas mantap ini terjadi karena desain kiosnya yang memiliki pintu. Sehingga tercipta ruangan privasi untuk segera berbuat mengenyahkan pipis sebelum terlambat.

Istri saya @helloarie kebetulan menemukan si kotak merah dan ingin difoto dengan adegan kepala clingukan dari dalam. Dia sudah paham akan resikonya. Menahan nafas beberapa detik menjadi solusinya.

Satu, dua, tiga, cekrek! Foto bernuansa Inggris pun tercipta lewat The Red Telephone Box. Tetapi sang model @helloarie wajahnya membiru, seolah dapat tragedi yang ingin dia tendang keluar.

"Apakah baunya melebihi bau pipis orang bule?" Tanya saya penasaran. Matanya melotot sepakat sambil mengangguk anggukan kepala. Ahhh saya tidak mau meneruskan untuk membayangkan isi di balik kios itu.

Istri saya sepertinya bukan terkena jebakan Batman, tetapi The Avengers!

Apa Kabar Dunia (Lagi)

Judul artikel yang saya tulis ini mengacu kepada kebiasaan seorang blogger jika memulai tulisan perdananya. Hello World kalau kata orang bule.

"(Lagi)" memiliki makna bahwa saya sudah pernah membuat blog. Kementerian Desain RI merupakan blog pertama saya yang kini sudah menjadi salah satu lini bisnis pribadi. Kalian dapat mengaksesnya di http://kdri.co

Ada beberapa faktor yang membuat blog anyar ini tercipta. Pertama, karena saya baru memiliki smartphone Motorola Razr yang lumayan nyaman mengakomodir kegiatan ngeblog secara mobile.

Kedua, gara-gara penerbit Bentang yang pernah menawari saya untuk menulis buku tentang kreativitas. Butuh waktu lebih dari 6 bulan menyelesaikan 300an halaman. Kebiasaan baru itu ternyata ngangenin. Capek tapi pingin mengulang kembali.

Alasan ketiga karena istri saya @helloarie yang punya cletukan tentang keinginan dia untuk membuat blog karena banyak curhatan yang mau dituangkan lewat tulisan. Rasanya seperti kena petir mendengar keinginan itu. Merasa bercermin, oh iya ya, kenapa saya tidak melakukan hal yang sama?

Banyak sekali peristiwa besar hingga remeh temeh yang pernah saya alami. Sepertinya sayang jika tidak terdokumentasi. Siapa tahu jika dibaca kembali menjadi bermanfaat, minimal buat saya pribadi.

Foto di atas menjadi bukti deklarasi saya dalam memulai kembali aktivitas ngeblog yang sudah lama vakum. Artikel ini saya ketik ketika sedang menemani sang istri belanja di wilayah yang membuat kaum pria bengong.

Nah dari pada saya ikutan bengong, lebih baik ngomong lewat blog.

Akhir kata, selamat membaca (lagi) blog saya :)

London, 3 November 2012, 9 Derajat Celcius, Brrrrrr!