Lahirnya Buku "Sila Ke 6 : Kreatif Sampai Mati"

Jam 6 sore, tanggal 18 Oktober 2011, saya mendapat email dari salah satu staff penerbit buku Bentang Pustaka. Sosok perempuan bernama Putri Nurnitasari memperkenalkan diri dan menceritakan profil singkat tentang buku - buku populer yang pernah mereka rilis.

Tanpa ba-bi-bu, di surat elektronik yang sama, perempuan tersebut menodong dengan halus untuk mengajak saya menulis buku tentang kreativitas. Weleh - weleh, la wong pengalaman menulis saya ini bagaikan singkong yang belum direbus. Ndak mateng. Mimpi apa mereka kok mau - maunya menggandeng saya menciptakan bacaan ratusan lembar.

Walaupun saya sudah pernah memiliki pengalaman membuat komik Mas Gembol bersama penerbit Bukune dan menulis beberapa artikel di media cetak, tetapi ditantang untuk menulis sebuah buku non fiksi ? Hmmm sepertinya projek yang terlalu serius untuk saya.

Pertemuan pertama kami  di kantor Tebet bertujuan untuk menunjukkan niat serius pihak Bentang Pustaka melamar saya menjadi penulis buku. Lembaran kontrak kerjasama pun sudah siap dari tangan Mbak Putri.

Memang sih menulis buku serius adalah bagian dari cita - cita saya, tetapi untuk jangka waktu 3-5 tahun ke depan, setelah matang berkecimpung dengan profesi yang saya geluti.

Namun, ketika ada pihak lain memberi kepercayaan kepada saya untuk hal yang belum saya yakini bisa dilakukan, rasanya seperti bercermin bahwa sesungguhnya diri ini bisa, tetapi belum kelihatan saja karena belum dilaksanakan.

Beberapa kali rasa frustasi menyerang otak ini, bayangkan sudah setengah tahun projek menulis karya non fiksi ini tidak kunjung kelar. Secara bersamaan kerjaan lain hadir menyibukkan pikiran ini. Sepertinya kegiatan menulis memang idealnya diberi ruang leluasa tanpa digoda dengan deadline lainnya. Saya membayangkan suasana damai di tepi pantai sambil memangku laptop dan asik mengetik imajinasi ke sebuah tulisan. Aaahhh seandainya...

Mungkin karena kreasi buku ini dikarang sambil disambi keriuhan kerjaan lainnya dalam suasana rempong, akhirnya draft penulisan saya kelar dalam waktu 1 tahun. Tepatnya pada tanggal 17 Oktober 2012. Beda 1 hari dengan tanggal awal mula saya menerima email tawaran projek ini.
Screenshot Penampakan Rilis Perdana Pre Order Buku #KSM
Haru biru mendera perasaan ini, ketika terpampang secara perdana di website Mizan.Com. Menunggu selama 12 bulan memang gak karuan rasanya. Sedih, senang, sebel, bimbang hingga galau akut sudah saya lalui menanti kelahiran buku "Sila Ke - 6 : Kreatif Sampai Mati".

Mbak Putri mengirim pesan melalui sms, "200 buku pesanan pre-order siap untuk ditanda-tangani".
Melotot shock mata ini membaca kalimat tersebut. Gagal paham melihat respon pembeli, padahal mereka belum tahu jerohan isi buku dari penulis pemula seperti saya.

Terima kasih buat mbak Putri dan Tim Bentang Pustaka yang telah mempercayai saya sebagai penulis setebal 300-an halaman. Cita - cita jangka panjang untuk merilis buku sudah terealisasi lebih cepat dari prediksi saya.

Efek samping dari peristiwa ini ? Jadi doyan curhat melalui tulisan, salah satunya lewat blog ini :)
Pantang Menyerah Men-TTD in 200 Buku Pre Order #KSM :)

Gambar Lawas Menghasilkan Projek Anyar

Setiap kali mendapatkan undangan acara ke luar negeri saya selalu sempatkan membawa beberapa kertas tebal polos A5 dengan pensil 3B. Perintilan tersebut sengaja saya manfaatkan jika ada acara bagi - bagi kenang - kenangan yang biasanya diselenggarakan di hari terakhir kegiatan.

Umumnya sebagian tamu undangan selalu membawa bingkisan ciri khas dari negara masing - masing, seperti kain, makanan ringan atau kerajinan tangan untuk diberikan kepada tim inti panitia penyelenggara. Nah, kertas A5 dan pensil tadi saya sulap menjadi cinderamata gambar karikatur.

Selain ringkes dan tidak ribet dibawa di bagasi, bentuk "gift" seperti ini menurut saya lebih memiliki nilai personal dan memorable. Memang sih ribetnya ketika proses pembuatannya. Saya terpaksa begadang berkarikatur ria di saat tamu undangan yang lain tidur terlelap.

Nah lalu bagaimana strategi produksinya ? Proses awalnya adalah saya foto wajah para target menggunakan kamera pocket. Malamnya digambar ulang dengan melihat referensi objek melalui view finder dari kamera tadi. Makin ribet ya ? Ha ha ha.

Sebetulnya kebiasaan seperti ini hanyalah cara saya mengekspresikan wujud terima kasih kepada penyelenggara yang sudah secara spesial mengundang ke negerinya.

Selang empat tahun dari pemberian salah satu karikatur saya ke sebuah undangan di Jepang , mendadak email masuk di inbox Yahoo saya. Tertulis dari Eddie Suzuki, International Manager dari Digital Content Association of Japan.

Dia menawarkan beberapa projek yang berhubungan dengan animasi dengan kalimat pembuka kurang lebih seperti ini, "Saya masih ingat kamu, dan saya masih menyimpan dengan rapi karikatur darimu".

Meleleh terharu membaca Email tersebut.

Ah gambar lama itu masih membekas di ingatannya, dan kelawasannya ternyata sambil menggiring projek baru darinya. Alhamdulillah.

Arigato Suzuki-san.

Contoh Karikatur ku untuk para panitia itu...


Foto Dua Pemuda di Infotainment

Handphone berdering pagi - pagi, tertulis di layar bahwa bapak saya di Malang sedang memanggil. Biasanya sih menanyakan bantuan pembuatan desain gratis untuk projek - projek pribadinya :)

Namun kali ini topik yang dibahas jauh di luar kebiasaannya, tentang infotainment!
Foto dua pemuda, antara saya dengan seorang mahasiswa Indonesia di London sedang lalu lalang secara intensif di layar kaca khususnya acara gosip.

Bapak saya seolah tidak percaya, "Kamu temennya anaknya Hatta Rajasa ? Kok kata orang - orang fotomu sering muncul di acara infotainment bareng Rasyid ?"

Beberapa hari sebelumnya, pernyataan yang sama bermunculan di timeline Twitter saya. Awalnya saya anggap becandaan dan sekedar HOAX, karena saya tidak melihat secara langsung foto itu. Tetapi makin lama makin banyak yang mengaminin bahwa tampak foto sosok Rasyid berdampingan akrab dengan saya.

Tidak mungkin saya harus mantengin terus acara gosip untuk meyakinkan kabar burung yang berdatangan di burung Twitter itu.
Dengan sigap, saya dan istri @helloarie bertanya ke Mbah Google untuk memastikan, sebetulnya foto mana yang menjadi heboh dan tersebar di ranah infotainment itu.

"Pasti Foto Ini!" Ujar @helloarie setelah berhasil menemukannya via Google Image Search Engine dari koleksi foto milik Rasyid di dunia Twitter.

Setelah diamati, jadi teringat bahwa foto di atas diambil ketika saya mendapat undangan menjadi salah satu pembicara di acara PPI Dunia yang diselenggarakan di Kedutaan Indonesia di London Inggris.

Saya benar - benar tidak menyangka bahwa perjumpaan 5 menit untuk berfoto bersama adalah Rasyid, anak Hatta Rajasa yang sedang ramai di pemberitaan media.

Biasanya kalau ada anak - anak populer, informasi bernada bisik - bisik ala intel selalu terdengar, "eh ini anaknya si anu loh, itu anaknya si anu loh". Namun pria kalem itu seperti mampu membumi menutupi sosok anak pejabat.

Tidak ada kesan menonjol dan vokal bahwa Rasyid merupakan anak Ketua Partai PAN. Dia seolah menyatu sebagai mahasiswa yang sedang bertugas menjadi salah satu panitia di acara PPI Dunia.

Kini Rasyid sedang menghadapi problema berat ditambah dengan pro kontra tentang kasus kecelakaannya yang sudah melebar menjadi ranah politik kelas atas.

Semoga masalah kecelakaan ini segera selesai terobati. Amin.

Perahu Itu Menikmati Panas Dinginnya Suasana


Melukis adalah kegiatan bervisualisasi yang jarang saya lakukan. Terciptanya imajinasi dari otak menjadi karya dari cat minyak ini masih bisa dihitung dengan jari. Hanya dorongan mood tingkat tinggi yang bisa mengajak saya asyik berbelang blonteng bersama kuas, kanvas dan cat minyak.

Mood melukis mendadak muncul pada tahun 2006 an, ketika saya ingin menghadiahkan sebuah kado istimewa untuk mantan pacar yang sekarang menjadi istri saya, @helloarie.

Saya ingin mengungkapkan perasaan hati ini dan ternyata dari bentuk kesenian yang ada, melukis adalah yang paling cocok.

Berkreasi paling asik itu di saat seniman tidak punya konsep, lebih mengandalkan spontanitas ketika ditodong kanvas kosong. Otak, hati dan tangan ini seakan kompak menggores isi imajinasi secara liar.
Nikmatnya adalah sang pelukis juga sama - sama penasaran menunggu hasil akhir seperti apa yang akan tercipta.

Akhirnya lukisan tanpa judul tercipta. Menampilkan perahu yang sedang berlayar di ganasnya ombak dan kobaran api. Sialannya, perahu itu memang terpaksa berpetualang karena dua simbol alam sedang bercumbu ria. Si biru dan si merah seolah bertabrakan liar tapi mesra. Keriangan mereka menghasilkan efek air dan api menjadi heboh.

Sebetulnya itu cara ekspresi saya menyimbolkan diri seorang Waditya yang pendiam, dingin, kalem dan introvert  bertemu dengan @helloarie yang supel, hangat dan extrovert.

Butuh berminggu minggu menyelesaikan lukisan ini hingga tepat terpajang di dinding pada tanggal 1 Oktober 2006.

6 tahun lebih sudah lukisan ini menemani kami menjelajahi panas dinginnya hidup. Walau berliku liku petualangan yang kita hadapi, namun kita tetap menikmatinya seperti lukisan air dan api yang bercumbu itu.

Cetar cetar menggelegar :)

Arigato Mas Ito


Facebook Message mendadak menotifikasi pesan baru dari mobile phone saya, "Halo Adit, saya akan berkunjung ke Distromu lagi". Berita itu datang dari teman saya yang berasal dari Jepang, Masatsugu Ito.

Perkenalan pertama terjadi ketika KAJI (Komunitas Alumni Jepang Indonesia) sebuah komunitas masyarakat Indonesia yang pernah bersekolah atau bekerja di Jepang, memboyong Ito ke kantor saya untuk menjalin networking.

Bisnis utama pria yang sepertinya berumur kepala dua ini adalah export gadget second ke Amerika dan Eropa, namun disela waktu senggang, Ito juga mengelola pages Facebook bernama Japan4You. Jumlah pengunjung yang nge"like" sejumlah 100 ribu orang. Nah menariknya 50 ribu orang tersebut berasal dari Indonesia.

Ito menjadi penasaran atas fenomena itu, sehingga dia rela merogoh kocek sendiri untuk berangkat ke negeri kita, mempelajari dan mempelajari, ada apa dengan Indonesia ?

Saya cukup salut dengan kengototan Ito, bayangkan sudah lima kali dia bolak balik Jakarta Tokyo, dan yang membuat saya senang adalah setiap kali tiba di Jakarta, dia selalu mampir untuk memborong kaos KDRI , he he (Alhamdulillah).

Kali ini dia datang ke Jakarta dengan agenda besar. Membuat gathering untuk mengumpulkan pengikut Japan4You di Indonesia. Sebuah acara tatap muka dan kulo nuwun antara admin dengan pengikutnya.

Ito mendatangi distro saya bersama teman - teman Jepangnya di daerah Tebet untuk memilih kaos yang cocok dipakai di hajatan besarnya. Kaos bergambar Soekarno Hatta akhirnya terpilih menemani acara Japan4You yang diselenggarakan esok harinya.

Rasa gelisah terpancar di wajahnya. Kemungkinan besar dia sedang memikirkan hiruk pikuk persiapan acaranya yang akan diselenggarakan di Kemang 28. Saya bisa memaklumi, pastinya susah dan bikin deg-deg an ketika orang asing membuat event di negeri lain dalam waktu yang terbatas karena kendala jarak.

Esoknya menjelang sore, saya menyempatkan diri untuk menengok acara Japan4You. Tampak puluhan orang duduk menikmati band indie lokal menyanyikan lagu - lagu populer Jepang. Ito tampak sumringah menyambut dan menyapa komunitasnya.

Walaupun pengunjung yang datang tidak sesuai ekspektasinya,  Ito tetap senang dengan lancarnya event ini. Bahkan dia sudah berangan - angan merancang bisnis di ibu kota kita.

"Dalam waktu dekat ini saya akan sering ke Jakarta. Saya ingin membuka kantor di Jakarta, mohon bantuannya Adit-san" ujarnya dengan tatapan penuh harap. Sorotan lampu kamera dari tv lokal untuk wawancara akhirnya menggiring Ito untuk melanjutkan kesibukannya.

Masatsugu Ito, buat saya adalah contoh sosok anak muda Jepang yang penuh ambisi. Membuat otak ini penasaran menunggu progress yang sudah dan akan ia bangun di Indonesia. Aah, minimal Ito sudah membangun lemarinya dengan koleksi kaos KDRI.

Arigatoo